Kembali ke Artikel

Eksistensi Santri di Tengah Hiruk-Pikuk Modernisasi

Oleh: A Faidhullah Farros Basykailakh 115x dilihat
Diterbitkan: 26 July 2025, 17:58 WIB
Eksistensi Santri di Tengah Hiruk-Pikuk Modernisasi

Di penghujung tahun 2024, seorang santri datang ke kamarku. Dengan langkah yang tampak ragu dan mata penuh keresahan, ia mengungkapkan sebuah kekosongan yang sedang mengganggunya. Sudah menginjak kelas 12 SMA, namun arah hidupnya terasa kabur. Pondok Pesantren Al-Anwar, yang sejak dulu dikenal dengan nuansa salafinya, baru saja mendirikan SMP pada tahun 2025. Sepanjang perjalanan panjang pesantren ini, hanya sedikit sekali perubahan yang cukup signifikan. Lalu, pertanyaan besar pun muncul dalam benakku: Apakah ini batasnya? Apakah santri hanya berhenti di sini, di pesantren ini, tanpa bisa melihat dunia luar yang lebih luas?

Tidak, pikirku. Santri tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dunia yang terus berputar ini. Mereka harus lebih dari sekadar pelajar yang menguasai kitab kuning. Mereka harus menjulang tinggi, berkiprah di dunia yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Namun, bagaimana mungkin hal itu tercapai jika pesantren sebagai lembaga pendidikan tidak memberikan peluang bagi mereka untuk berkembang, untuk mengepakkan sayap mereka?

Dalam sekejap, ide itu muncul begitu jelas. Aku segera menghubungi ketua pesantren, @rama, dan mengusulkan agar seminar karir ditambahkan dalam rangkaian Haflah Akhirussanah 2025. Soal siapa pembicara dan tema seminar, aku yang akan merencanakan, namun aku hanya memintanya untuk menyiapkan tempat, waktu, dan tentu saja, para santri—pahlawan sejati yang akan menjadi peserta utama.

Tema seminar ini adalah "Eksistensi Santri di Tengah Hiruk-Pikuk Modernisasi". Dan siapa yang lebih tepat untuk membuka seminar ini selain Mas M. Syafiq Yunensa, S.Pd., M.Pd.? Dengan segudang pengalaman dan prestasi yang dimilikinya, beliau tidak hanya mampu menyampaikan materi dengan sangat baik, tetapi juga bisa menyesuaikan gaya penyampaiannya kepada para santri yang mayoritas masih duduk di bangku SMP dan SMA. Meski ia biasa berbicara di kalangan mahasiswa, kemampuannya untuk menyampaikan pesan dengan cara yang mudah dipahami dan relevan dengan kehidupan mereka, membuat setiap santri merasa terinspirasi.

Mba Latifah, Mba Fika, Mas Wisnu, dan Mas Jabar (yang juga menjadi Project Manager Haflah Akhirussanah 2025) adalah beberapa santri luar biasa yang turut berpartisipasi dalam seminar ini. Mereka mendapatkan kesempatan langka—mendapatkan buku gratis meskipun harus menunggu karena stoknya habis. Hehe. Acara ini tidak hanya menarik, tetapi juga penuh semangat, di mana santri berbagi kisah hidup mereka dengan antusias.

Seminar ini juga membuka jalan untuk kolaborasi yang lebih besar. Ke depan, pesantren berencana untuk menyediakan kelas penulis muda, dengan tujuan untuk melahirkan penulis-penulis hebat yang berasal dari kalangan santri. Dengan begitu, pesantren akan memiliki kontribusi nyata bagi perkembangan literasi dan dunia penulisan.

Semoga langkah ini membawa berkah dan restu dari Allah SWT. Aamiin Ya Rabbal Aalamiin.