Kembali ke Artikel

Jejak Sunyi Sang Pendidik Bangsa

Oleh: A Faidhullah Farros Basykailakh 88x dilihat
Diterbitkan: 29 July 2025, 08:30 WIB
Jejak Sunyi Sang Pendidik Bangsa

Neng-Ning-Nung-Nang

Kalimat di atas merupakan salah satu fatwa Ki Hajar Dewantara yang disematkan pada pendidikan Taman Siswa. Ki Hajar Dewantara atau RM. Soewardi Soerjaningrat merupakan menteri pendidikan pertama Indonesia. Lahir pada 2 Mei 1889, di Kadipaten Pakualaman, ia lahir dengan nama Soewardi Soerjaningrat, lalu mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara pada usia 40-an, sebagai upaya menghilangkan garis-garis kekuasaan keturunan, ia ingin dekat dengan rakyat tanpa batasan apapun. Hari lahirnya dinobatkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Menjadi salah satu cara bangsa dalam menghormati perjuangannya, terutama dalam bidang pendidikan.

Sebagai pendiri Taman Siswa, Ki Hajar memiliki banyak asas-asas fatwa yang wajib dipahami oleh semua yang ada di Taman Siswa, baik murid maupun pendidik. Pendidikannya yang sering disebut dengan Metode Among, membuat falsafah Taman Siswa sangat dalam dan bermakna. Tidak ada seperti Tata Tertib Peserta Didik atau Tata Tertib Pendidik, akan tetapi dengan falsafah yang universal. 

Seperti falsafah “Neng-Ning-Nung-Neng”, ini adalah salah satu yang unik. Tidak akan ada lagi di Indonesia yang bisa membuat Asas, Fatwa, atau Falsafah seperti Beliau. Neng adalah meneng, artinya kita sebagai manusia harus diam, dan memperhatikan dengan baik. Ning adalah wening, artinya kita sebagai manusia harus bening, bersih, dan jernih, dalam isi pikiran dan isi hati. Nung adalah hanung, artinya kita sebagai manusia harus berbesar hati dan jiwa. Nang adalah menang, maka jika kita bisa memenuhi nilai-nilai sebelumnya, kita akan bisa menang.

Falsafah “Neng-Ning-Nung-Nang” bukan sekadar permainan kata. Ia adalah rangkuman nilai luhur yang mengajarkan manusia untuk tidak tergesa, tidak serakah, dan tidak kehilangan jati diri dalam proses belajar dan kehidupan. Dalam pendidikan Taman Siswa, nilai-nilai seperti ini tidak hanya diajarkan di ruang kelas, tetapi dihayati dalam keseharian. Pendidikan bagi Ki Hajar Dewantara bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan watak dan budi pekerti.

Lebih jauh, prinsip “Among” yang menjadi dasar pendekatan pendidikan di Taman Siswa mencerminkan kebebasan yang bertanggung jawab. Pendidik tidak berdiri sebagai penguasa, melainkan sebagai penuntun. Dalam semboyannya yang sangat dikenal, “Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, tersirat prinsip kepemimpinan dalam pendidikan yang menjunjung tinggi keteladanan, kebersamaan, dan dorongan dari belakang agar siswa berkembang sesuai kodratnya.

Ki Hajar Dewantara memahami bahwa pendidikan bukan milik kaum bangsawan atau kalangan elit saja. Ia memperjuangkan pendidikan untuk semua golongan tanpa memandang latar belakang. Semangat inilah yang menjadikan Taman Siswa sebagai gerakan perlawanan kultural terhadap penjajahan, bukan dengan senjata, tapi dengan ilmu dan nilai-nilai kebangsaan.

Kini, lebih dari seabad sejak ia lahir, warisan pemikirannya tetap relevan. Di tengah arus globalisasi dan tantangan zaman, kita diingatkan kembali bahwa inti pendidikan adalah memanusiakan manusia. Bukan sekadar mencetak pekerja, melainkan menciptakan manusia merdeka yang berpikir jernih, berhati besar, dan mampu memenangkan kehidupan.

Hari Pendidikan Nasional setiap 2 Mei bukan sekadar seremoni tahunan. Ia adalah panggilan bagi kita semua—guru, orang tua, pembuat kebijakan, dan siswa—untuk merefleksikan kembali esensi pendidikan yang sejati. Pendidikan yang bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi tentang nilai-nilai kemanusiaan yang diwariskan Ki Hajar Dewantara.